Selasa, 04 Oktober 2011

Laissez Faire

Saat saya memutuskan untuk iseng-iseng membuat blog ini, keadaan saya benar-benar sedang kritis. Kritis? Ya, dari beberapa sisi memang bisa dibilang demikian. Pertama, tabungan saya sejak memutuskan resign dari pekerjaan lama saya di Jogjakarta sudah semakin menipis. Sudah sekitar tiga minggu ini saya bertekad hijrah ke Jakarta, meninggalkan kehidupan yang sudah sekitar 10 tahun terbangun di Jogja, tempat saya menghabiskan indahnya masa-masa SMA, kuliah, lalu bekerja sebagai jurnalis dan asisten redaktur di salah satu media lokal.

Kedua, di tengah mahalnya hidup di ibu kota, digit rekening tabungan yang terus berkurang dan ribetnya prosedur seleksi penerimaan jurnalis baru di media-media nasional, beberapa kegelisahan lain yang sempat terkubur selama bertahun-tahun seperti hidup kembali memenuhi semesta pikiran dan batin saya. Ini bukan soal asmara (semoga..). Ini bukan soal masa depan. Ini juga bukan soal negara, saya bukan birokrat dan aktivis yang suka mengkritik semua kebijakan pemerintah.

Lantas soal apa? Saya juga belum tahu persis. Saya akan coba mengurai perlahan-lahan, satu demi satu, hingga semua missing link di dalamnya dapat teruraikan dengan lembut dan mesra. Yang jelas, isi blog ini akan sangat serius. Benar-benar serius! Saya sarankan bagi teman-teman yang nantinya akan mampir ke sini, untuk tidak membuka dan membaca posting-posting di dalamnya pada malam hari. Itu berguna agar tidur teman-teman tetap lelap dan berkualitas. Sebelum membaca, sebaiknya teman-teman menyiapkan segelas minuman dingin dan sebungkus camilan agar pikiran dan perasaan teman-teman tetap rileks dan terkendali.

Pada akhirnya, silahkan membaca dan mari berkontemplasi bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar